AKU, HUTANku & MUSIKku

Aku di Desa Sawai Maluku Tengah

Aku di Desa Sawai Kab. Maluku Tengah

Ilmuwan dan Seniman bagaikan 2 sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidupku. Secara formal, aku belajar tentang Remote Sensing (Penginderaan Jauh) bidang kehutanan, sedangkan seni/musik, aku belajar secara autodidak. Dua dimensi profesi ini aku geluti dari waktu ke waktu dengan penuh rasa pengabdian karena aku menikmatinya dan berusaha keras menyeimbangkan keduanya dengan satu tujuan agar : “aku menjadi berkat bagi orang lain”.
“HUTAN BAGIKU MERUPAKAN KARUNIA TUHAN YANG MAHA AGUNG SAMA SEPERTI RASA MUSIK YANG KUMILIKI”
Hutan penuh dengan dinamika yang didalamnya tercipta sejuta karya besar Tuhan yang harmoninya dapat menciptakan keseimbangan secara alamiah. Kekayaan (biodiversity) didalamnya tidak dapat diselami oleh pikiran manusia meskipun perlakuan/permudaan buatan (artificial treatment) marak dilakukan, apakah mungkin hutan akan kembali seperti pada awalnya. Maka sangat berdosalah kita bila hutan kita tidak dapat kembali seperti sebelumnya. Gerakan Nasional GN-RHL/GERHAN yang dicanangkan sejak 2004 sampai saat ini masih belum mampu secara siginifikan mengembalikan kekayaan hutan itu. Ekosistim yang rapuh dari pulau-pulau kecil seperti di Maluku-pun sangat rentan terhadap perubahan yang makin hari makin terasa dampaknya.

null

Hutan Taman Nasional Manusela

Hutan Taman Nasional Manusela

Hutan Taman Nasional Manusela

Hutan Taman Nasional Manusela

Musikpun menghasilkan harmoni yang hanya bisa dinikmati dengan rasa (feeling) sehingga dinamika yang ada didalamnya bisa diakses. Namun, sama seperti hutan yang lebih banyak penekanannya kepada fungsi ekonomis, maka musik di negara inipun semakin diarahkan hanya kepada fungsi ekonomis/komersialisasi sehingga musik berkualitas sudah mulai sering tidak ber-frekwensi lagi. Apakah hal ini juga akan berpengaruh kepada otak kiri orang Indonesia yang sudah mulai surut dari sisi kualitas seni? Musik Klasik yang katanya sangat kuat meng-stimulasi otak kiri manusiapun jarang terdengar di negara ini, musik gampangan justru mulai mendarah daging di negara yang kita cintai. Demikian juga lagu-lagu Malukupun sudah tidak lagi ber-audiomental Maluku, mulai kehilangan jati diri.
Oh hutanku…oh musikku…oh negaraku… oh Maluku…

Aku di Banhof Frankfurt, Jerman

Aku di Banhof Frankfurt, Jerman

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!